Menu

Arigato Gozaimasu, Dr. Ihsan (Bagian 1)

Guru yang sebenarnya

*5 bulan tertunda untuk menyelesaikan tulisan ini

Dr. Eng. Ihsan, ST., MT. adalah salah satu dosen saya selama kuliah di program studi Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota, Universitas Hasanuddin. Beliau adalah salah satu dari dua dosen pembimbing saya selama proses penyusunan tugas akhir saya. Selama setengah tahun lebih saya bersama beberapa teman menjadi mahasiswa bimbingannya. Dan tidak ada kata yang patut saya ucapkan selain terima kasih yang sebesar-besarnya buat beliau. Syukran, Pak. Arigato Gozaimasu, Sensei.

Pertama kali mengenal beliau adalah ketika saya masih mahasiswa baru, saat itu beliau adalah dosen mata kuliah Studio Perencanaan Tata Ruang I (SPTR I) kami. Dalam mata kuliah tersebut, beliau mengajarkan dasar-dasar dari proses menggambar secara freehand. Unik, mengingat tugas yang kami kerjakan adalah menggambar garis. Tapi, bukan sembarang garis.

Garis yang kami gambar bermacam-macam, dibedakan berdasarkan ketebalan garis yang digunakan (pensil 2B, HB, dll.), ukuran kertas yang digunakan (A4 sampai dengan A3), jumlah garis yang harus kami gambar  dalam satu halaman, kemiringan garis, dan jarak antara garis. Garis, garis, dan menggaris. Dan semuanya harus freehand! Tanpa bantuan alat lainnya. Satu garis salah dalam satu lembar kertas sama dengan mengulang dari awal.

Bagi beberapa orang, mungkin tugas kuliah seperti itu adalah hal yang tidak masuk akal, membosankan dan bikin frustrasi. Kedua poin terakhir lah yang saya rasakan. Tapi, sebenarnya ada banyak nilai yang kami pelajari dari tugas membuat garis tersebut.

  • Pertama, nilai kejujuran. Tugas sebanyak itu tentu saja membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya. Dan siapa saja pasti akan “tergoda” menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam prosesnya.
  • Kedua, konsentrasi. Menggambar banyak garis sampai mencapai ratusan dalam satu halaman kertas A3 tentu membosankan. Satu hal kecil saja yang mengganggu bisa merusak satu halaman tugas yang sudah dikerjakan dengan susah payah. Kalau tidak konsentrasi, game over! Restart, please ….
  • Ketiga, ketelitian. Bukan cuma jumlah garis atau lurusnya garis yang masuk dalam kriteria penilaian. Ketebalan goresan tinta pensil setiap garis harus sama, dan kalau tidak sama saja dengan mengulang!
  • Keempat, kepercayaan diri. Tanpa kepercayaan diri untuk memulai menarik garis dan membuatnya sampai pada ujung kertas, sama saja dengan membuang-buang waktu. Apalagi kalau deadline tugas harus dikumpul 2×45 menit kedepan. (korban SKS *Sistem Kebut Semalam)

Pada awalnya tugas tersebut memang membuat saya mengeluh, tapi kemudian saya sadar bahwa ini akan banyak bermanfaat untuk saya kedepannya. Entahlah, filosofi apa tepatnya untuk menggambarkan proses tersebut, tapi hasil latihan menggaris secara freehand seperti ini membuat tugas-tugas menggambar menjadi lebih ringan karena telah terbiasa.

Kurang lebih beberapa minggu pak Ihsan mengajari kami dalam mata kuliah SPTR I ini. Setelah itu beliau berangkat ke Jepang untuk menempuh studi doktoralnya. Selama beberapa minggu “digembleng” oleh beliau yang sangat tegas dalam proses belajar mengajar, dan yang saya tidak habis pikir adalah beliau sangat bersemangat dalam menerangkan perkuliahan. Bahkan, dalam beberapa jam beliau mengajar, suaranya masih tetap nyaring dan kedengaran powerful plus high speed. Amazing!

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.