Menu
red petaled flowers

Bikin Takjil

Tidak masalah dengan yang itu-itu saja

Hidup ngontrak sendiri di Jakarta selama bulan puasa adalah hal yang cukup menantang dari segi persiapan segala sesuatunya.

Mulai dari sahur sampai buka puasa, hampir semuanya harus bisa saya lakukan sendiri.

Untuk sahur sendiri, terus terang saat ini saya lebih banyak beli makanan diluar dibanding masak sendiri. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena 2 alasan ini:

  • Berpartisipasi meningkatkan perekonomian pedagang makanan yang belum tentu bisa jualan di siang hari 😀 . Dan seperti yang kawan-kawan tahu, efek pandemi COVID-19 sangat besar terhadap para pedagang apapun itu.
  • Biar ada teman ngobrol. Hampir sebagian besar waktu saya di kontrakan saya lewati sendiri, kadang dalam sehari sama sekali tidak ada interaksi langsung dengan orang lain, dan itu menurut saya juga tidak baik. Dengan membeli makanan diluar, setidaknya saya punya teman ngobrol, membicarakan hal-hal yang sederhana, setidaknya membantu melupakan banyak masalah.

2 Tahun lalu dan tahun lalu, berhubung karena COVID-19 masih sangat parah, saya lebih banyak memasak sendiri.

Untuk berbuka puasa, jika tidak buka puasa di masjid, sebagian besar saya siapkan sendiri, dimana takjil yang saya buat hanya ada 1 macam: Es Buah.

Sederhana saja

Menu Es Buah yang saya buat bahannya sangat sederhana dan semuanya bisa didapat di pasar terdekat dan di mini market. Bahannya adalah:

  • Buah timun suri
  • Buah naga
  • Nata de Coco
  • Cincau
  • Selasih
  • Sirup Coco Pandan (contoh: Marjan)
  • Susu kental manis putih
  • Air minum

Untuk takarannya juga sederhana saja: sesuai selera.

Harganya sendiri, untuk buah-buahan tersebut bahkan tidak sampai 30 ribu rupiah, yang cukup untuk beberapa kali penyajian.

Es buah buatanku

Saya menganggap masak memasak itu lebih cenderung kearah seni, jadi untuk apapun itu biasanya saya tidak terlalu memperdulikan takaran sampai detail seperti campuran bahan bakar Formula 1. Bagi saya memasak itu tergantung selera yang mau memakannya, selama bahannya sesuai dengan masakan yang diharapkan, then it should be fine. Yang penting layak dikonsumsi. Dan enak-enak saja.

Mengingat ini hanya es buah, sama sekali tidak perlu begitu kaku dalam mengurutkan buah yang mana harus lebih dulu dipotong dan lain-lain.

Ok, kembali ke membuat es buah ini, waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya, karena metode saya yang sangat sederhana itu, waktu pembuatannya juga tidak begitu lama.

Mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit, mulai dari mengupas buah timun suri, memotongnya menjadi bentuk dadu, mengiris buah naga, memotong cincau, menuangkan selasih, nata de coco, susu kental manis putih, sirup coco pandan, menuangkan air secukupnya, dan mengaduknya, dan jangan lupa memasukkannya kedalam kulkas. Just that simple.

Untuk wadahnya sendiri, saya juga tidak begitu mempermasalahkannya. Mungkin karena saat ini saya hanya tinggal sendiri, jadi estetika tidak begitu menjadi masalah besar. Saya biasanya menggunakan panci atau wadah rice cooker 😀 . Again, there’s nothing’s fancy here, since those are just fine by me.

Sisa waktu yang ada biasanya saya pakai untuk mencuci piring dan gelas.

BTW, biasanya saya membuat es buah ini di siang hari, biasanya setelah sholat dhuhur. Selang waktu dhuhur sampai menjelang buka puasa sudah cukup untuk membuat es buah itu menjadi dingin dan enak disantap sebagai takjil pada saat buka puasa.

Takjil es buah ini adalah satu-satunya jenis menu takjil yang saya buat selama bulan ramadhan ini. Apakah saya bosan? Hmmm… tidak juga. Saya bahkan tidak masalah makan takjil ini jika harus selama satu bulan penuh.

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.