Menu
kumis unik

Dunia Ini, Sebelum dan Sesudah Kehadiran Kumis Permanen

Dulu kau begitu didamba-dambakan hampir semua temanku yang laki-laki. Hampir semua menantikan saat-saat dimana engkau menjadi bagian yang tak terlepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Kau sungguh bisa meningkatkan percaya diri kami yang pemuda-pemuda ini. Sebuah lambang status aqil baligh.

Kulihat dirimu terkadang membuat seseorang menjadi over acting. Gila juga? Membuat seorang teman saya rela menggosokkan bubuk mesiu hanya untuk melihatmu muncul lebih cepat dari yang seharusnya. Ada apa dengan mu? Atau ada apakah dengan kami ini?

kumis unik
Bukan Kumis Saya

Itu dulu, sekarang?

Tapi kini, setelah kau telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kami, setelah seorang teman saya sudah tidak menggosokkan lagi bubuk mesiu itu, setelah kau juga menjadi bagian dari tubuhku, kau menjadi semakin liar. Seenak-enak nya saja menjadi aksesoris natural diwajah kami? Ada urusan apa kau menggelantung disana?

Sampai-sampai hampir setiap akhir minggu serasa ada alarm di cermin yang memperingatkan kalau kau minta dipotong. Hah, dipotong? Ada apa dengan mu, pemuda? Aku takut, eh khawatir…. Jangan sampai kau malah merusak penampilanku yang juga ingin ikut-ikutan tampil awet muda. tapi apakah sudah terlambat? Ah tidak, tidak…. Semua ini sudah terlanjur. Aqil baligh sudah lama berlalu. Kini sisa umurku akan kuhabiskan bersamamu, tuan kumis!

Tumbuhlah yang jinak, jangan bikin susah majikanmu ini, minta lah dicukur saat ada gunting. Kumohon, kumis!

(Kisah pemuda dan kumisnya) 

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.