Menu
Bugis-Junction

Hari Kedua di Singapura, Fun and Fool

Setelah hari pertama mengunjungi beberapa tempat wajib, seperti KBRI Singapura, Merlion Park, Esplanade, hari kedua kami menjadi lebih bebas untuk berkeliling Singapura. Tentu tetap dalam satu grup. Hari kedua ini lebih banyak dimanfaatkan untuk berbelanja, yah hitung-hitung masih ada dollar Singapura di dompet. Masih bisa dipakai untuk beli souvenir buat keluarga dan teman-teman di Indonesia.

Hari itu kami sempat makan di Mr Teh Tarik, semacam food court yang menjajakan beragam makanan dan minuman halal. Makanan yang saya santap adalah nasi lemak (nasi uduk dalam bahasa Indonesia). Rasa nya lumayan lah. Hari itu agak mendung. Perjalanan yang kami tempuh menyusuri arena balap Formula 1 sampai dengan kawasan pulau Sentosa. Oh iya, kebetulan waktu itu (11 Oktober 2011) beberapa minggu sebelumnya (25 September 2011) baru saja diadakan ajang balap F1, masih terlihat sisa-sisa peralatan yang digunakan saat balapan berlangsung. Beberapa properti balap seperti tiang lampu, rangka tribun penonton masih dalam proses knocking down.

singapore flyer
Singapore Flyer

Kami juga pergi ke Singapore Flyer yang letaknya berada di kawasan waterfront (tepian air). Disana lah pertama kalinya saya melihat langsung mobil Ferrari dan Lamborghini, yang parkir dihalaman Singapore Flyer. Cuaca menjadi gerimis.

Ada juga Bugis di Singapura

Hari itu kami menyempatkan diri ke Bugis Junction, di Bugis Street. Saya sangat penasaran melihat tempat itu, mau mencari tahu apa hubungannya Singapura dan Bugis? Sampai disana yang terlihat adalah kawasan perbelanjaan yang terdiri dari banyak gedung-gedung. Cukup elite juga kawasannya. Bangga juga rasa nya jadi orang bugis. Meskipun disana mungkin saja tidak ada orang yang bisa berbahasa bugis, ataupun ber darah bugis.

Bugis-Junction
Bugis Junction

Fool again

Salah satu kejadian yang berkesan juga terjadi di Bugis Junction. Rasa nya cukup menakjubkan melihat kawasan perbelanjaan di kawasan tersebut, konsep mall nya juga sangat bagus. Sangat banyak pilihan. Semua nya dapat ditempuh hanya dengan bejalan kaki. Aha, saya punya misi rupanya. Sebuah misi yang sudah lama kurencanakan. Saya ingin melihat langsung toko retail apple yang keren itu (kalau ada di Singapura). Saking penasarannya saya, celingak celinguk mendongak keatas, saya tidak melihat kalau ada papan kuning (yang menandakan lantai licin). Tidak sadar, saya menendang nya. Suaranya sangat keras. Dan banyak orang yang terkejut. Saya baru sadar ketika teman saya juga berbalik kearah saya. Sebuah kebodohan lagi terjadi, saudara-saudara! Teman-teman yang bersama saya waktu itu tidak berhenti tertawa. Saya tidak terlalu peduli, orang-orang Singapura juga tidak peduli. Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Go Ahead!

Meski tidak menemukan toko retail resmi apple. Beberapa toko juga menjual barang-barang apple, seperti iPad, iPod, iPhone, dan Mac. Mereka juga menyediakan beberapa barang yang bisa di uji coba langsung. Rasa nya asik juga sempat memainkan iPad 2.

Ke toko buku

Saya dan beberapa teman juga menyempatkan diri ke toko buku, nama nya Kinokuniya. Wow, banyak juga koleksi buku nya. Tapi? Kebanyakan bahasa Inggris, ya iya lah. Ada juga bahasa lain, tapi bahasa mandarin dan Jepang. Banyak buku yang keren, dan salah satu buku yang saya incar dan sulit sekali ditemui di Indonesia ada disana, “4 Hour Work Week” karya Timothy Ferriss. Tapi kendala nya selain buku berbahasa Inggris, adalah harga nya. Kalau dirupiahkan sekitar 200 ribu lebih. Lagian saya juga sudah punya dalam bentuk ebook. Tapi juga dalam bahasa Inggris.

Happy Deepavali (Diwaali)

Selanjutnya kami pergi ke kawasan little India. Cukup semarak juga, ada semacam pasar dadakan yang diadakan disana, untuk merayakan hari Deepavali. Berjejer hiasan-hiasan jalan yang berwarna-warni bermotif kembang-kembang. Indah.

Malam hari nya kami menonton pertunjukan Song of the Sea di pulau Sentosa. Perjalanan kesana cukup asik juga. Menggunakan moda transportasi yang unik. Tapi kami harus menunggu beberapa saat, karena waktu pertunjukan untuk kami adalah puku 08.40 malam waktu setempat, kami harus menunggu kurang lebih satu setengah jam sebelum masuk. Saya sempat terkejut dengan sepasang orang mandarin yang menawarkan kepada saya dan beberapa teman saya tiket pertunjukan secara cuma-cuma. Sepertinya mereka terburu-buru sehingga tidak sempat menonton pertunjukan tersebut. Tiket pertunjukan yang mereka berikan lebih cepat satu jam dari jadwal kami, tapi kami memilih untuk menunggu giliran kami.

Bye bye, Singapore. Next, Thailand!

OK, kami sudah selesai dengan Singapura. Perjalanan selanjutnya ke Thailand! Yeeahh…. Sebenarnya, tidak ada rencana ke Thailand dalam rencana yang sudah kami susun, tapi karena ada waktu luang satu hari, maka kami putuskan untuk kesana. Sempat terancam batal juga, tapi kami semua sudah terlanjur ingin kesana. Dan Alhamdulillah, malam itu juga kami ke Thailand. Dengan menggunakan bus travel kami tentunya. Perjalanan dari Singapura ke Thailand melintasi wilayah Malaysia dan beberapa kali kami harus singgah untuk pemeriksaan passport. Perjalanan itu kurang lebih menempuh 800 km lebih. Cukup melelahkan, tapi akan sangat menyenangkan! 🙂

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.