Menu

Saya dan Sepeda #Bagian1 – Childhood

Masa kanak-kanak

Dari semua benda yang ada di dunia ini, sepeda adalah salah satu yang paling sukai. Saya masih ingat betul kenangan-kenangan semasa kecil saya dengan benda ini. Masih saya ingat pertama kali belajar mengendarai sepeda. Waktu itu saya terjatuh bersama sepeda kedalam selokan, juga bersama dengan sepupu dan beberapa teman yang membantu mendorong sepeda. Saya tidak menangis, malah saya sangat senang, karena itulah pertama kalinya saya menunggangi sepeda. Meski belum mahir.

Saya masih ingat waktu-waktu itu, ketika saya tinggal di rumah nenek selama beberapa tahun untuk mengaji di guru mengaji setempat. Sambil tentunya bersekolah TK sampai dengan kelas 2 SD. Itu adalah masa kecil yang tidak akan pernah saya lupakan.

Ilustrasi

Sepeda yang pertama kali saya kendarai adalah sebuah sepeda kuno, dengan model kurva berbentuk U. bentuk tersebut memudahkan saya dan beberapa sepupu saya untuk mengendarainya, karena kami waktu itu masih kecil-kecil. Dan sepeda yang cocok untuk kami hanya satu, sepeda berbentuk kurva U itu. Saya dan seorang sepupu saya yang laki-laki sering berlomba untuk mengendarainya.

Namanya Muhammad Fajar Awal, biasa dipanggil Awal. Dia adalah sepupu, sekaligus sahabat saya sejak kecil. Kami banyak melakukan hal bersama-sama. Sejak kecil kami berada dalam satu kelas, mulai dari mengaji, TK sampai dengan kelas 2 SD. Setiap pulang sekolah saya dan dia pasti berlomba secepat mungkin untuk sampai ke rumah untuk mengambil sepeda dan mengendarainya kemana-mana.

Melihat persaingan itu, paman saya berinisiatif untuk menambahkan boncengan untuk sepeda itu. Jadi kami bisa bersepeda bersama-sama dengan satu sepeda. Hanya sepeda berkurva U itu. Kami tidak minta dibelikan sepeda, karena tahu itu bukan permintaan yang mudah dikabulkan.

Sepeda, bagi kami waktu itu adalah segalanya. Sepeda membuat saya ingin cepat bangun pagi, sekolah dengan semangat dan mengaji sebaik-baiknya. Saya selalu tidak sabar untuk bersepeda. Karena sepeda membuat saya bisa berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sejauh kaki bisa mengayuh, sejauh jalan masih terbentang, dan yang penting orang-orang tua tidak tahu sejauh mana kami bersepeda. Sepeda membawa kami ke tempat-tempat mengagumkan.

Suatu saat saya, sepupu dan beberapa orang teman bertualang dengan sepeda, dan menemukan satu tempat yang dinaungi pohon-pohon besar, beralas rumput-rumput lebat, juga ditambah semilir angin sepoi-sepoi. Tempat yang indah untuk melepaskan kepenatan sepulang sekolah. Kami sering kesana untuk bermain atau bahkan belajar. Seperti surga kecil yang kami kuasai. Kami menamakannya tempat bertamasya, lucu juga kalau difikir :mrgreen: . Tapi itulah anak kecil, tempat itu adalah tempat terbaik yang pernah saya datangi.

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.