Menu
Kuala-Lumpur-International-Airport-In-night

Selangkah Lebih Jauh Dari Indonesia

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di Kuala Lumpur, Malaysia. Tepatnya 9 Oktober 2011, kurang lebih pukul setengah sembilan malam waktu setempat. Ini adalah langkah pertama saya berada diluar tanah air. Perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam dari bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dengan menggunakan maskapai Air Asia.

Perjalanan ini merupakan rangkaian dari lawatan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) kami, mahasiswa Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota (PWK), Universitas Hasanuddin angkatan 2008. Rencana ini sudah kami susun sejak hampir se-tahun yang lalu.

Kuala-Lumpur-International-Airport-In-night
KLIA

Banyak tantangan sebelum berangkat

Oh iya, sedikit bercerita soal sebelum keberangkatannya seperti apa. Selama beberapa hari (sebenarnya berminggu-minggu) sebelum keberangkatan, banyak sekali kegiatan yang saya lakukan. Hal-hal yang bersifat akademik dan non-akademik. Beberapa waktu sebelum keberangkatan, saya dan beberapa orang teman saya disibukkan oleh survey-survey lapangan untuk membantu salah satu penelitian seorang Professor kami. Survey kami lakukan berkali-kali untuk menyempurnakan data-data yang harus kami kumpulkan. Selain itu kami juga beberapa kali harus asistensi perkembangannya kepada dosen terkait.

Efek lain dari penelitian Professor tersebut adalah, saya juga didorong oleh dosen untuk membuat satu proposal penelitian, untuk mengikuti program kreativitas mahasiswa penelitian (PKM-P). Beruntung ini bisa diselesaikan secara berkelompok, sehingga kami dapat berbagi tugas untuk menyelesaikannya. Yang menantang dari penyusunan proposal ini adalah, format penulisan harus sesuai dengan persyaratan. Sampai sampul juga diatur, saya harus menemukan kertas cover bufallo untuk sampul proposal kami. Dan alhamdulillah, proposal sudah selesai beberapa menit sebelum keberangkatan saya ke Malaysia. Ini lah yang sangat membuat tenaga saya banyak terforsir.

Kesibukan lain adalah tentu saja kegiatan perkuliahan. Semester ini saya mengambil 8 mata kuliah, yang lebih banyak dari sebagian besar teman saya. Yah, begini lah konsekuensi nya kalau di masa lalu jarang masuk kuliah. Tapi tetap saya berusaha untuk menikmatinya. Beberapa mata kuliah sudah mulai memberi tugas dengan deadline nya masing-masing. Beruntung tugas nya belum begitu berat. Tapi salah satu mata kuliah saya, yakni KP (Kerja Praktek) yang cukup membebani fikiran saya. Saya belum pernah memberi sumbangsih yang berarti bagi tempat saya Kerja Praktek di salah satu Professor transportasi di fakultas kami.

Tantangan lain adalah, saya harus pulang balik dari Makassar ke rumah orang tua di Pangkep, yang jaraknya kurang lebih 50 km. Alasannya, klasik. Saya harus mengurus beberapa hal, salah satunya adalah uang jajan. Beberapa kali saya harus pulang balik untuk hal yang satu itu. Untuk persiapan ke negara orang, supaya bisa beli souvenir lah disana.

Langkah pertama di Malaysia

Tiba di Malaysia dalam kondisi yang masih kelelahan, kami segera menuju ke bagian imigrasi. Sejak turun dari pesawat, kami disambut dengan tulisan-tulisan melayu yang sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia, seperti:

Ketibaan Dalam Negeri = Domestic Arrival

Ketibaan Antar Bangsa = International Arrival

Tuntutan Bagasi = Baggage Claim

Kastam = Customs

Tiba di bagian imigrasi, sebuah kebodohan terjadi!. Saya ditegur oleh petugas imigrasi setempat. Saya sendiri tidak sadar kalau telah melanggar salah satu peraturan. Saya melewati batas garis kuning antrian. Cukup malu juga saya waktu itu, mengingat banyak penumpang lain yang melihat kejadian itu. Termasuk pak dosen yang juga menegur saya. Maafkan saya, pak!

Setelah paspor distempel petugas imigrasi, saya mengacungkan tangan saya kedepan untuk berjabat tangan untuk mengucapkan terima kasih kepada petugas imigrasi. Si petugas imigrasi yang pendek itu tidak mau berjabat tangan dengan saya. Yah saya tahu, pasti dia khawatir jangan sampai tangan saya ber virus. Padahal makan saja sering tidak cuci tangan. 🙂

Setelah semua sudah selesai dengan imigrasi, kami bergegas keluar bandara menunggu bus travel yang akan kami tumpangi selama KKL kami. Ramai juga hiruk pikuk di pelataran bandara. Ya, namanya saja bandara internasional.

Bus sudah tiba, sebuah kalimat ber bahasa melayu lagi terlihat: BAS PESIARAN, yang artinya dalam bahasa Indonesia, Bus Pariwisata. Bus nya sangat berbeda dengan yang pernah saya tumpangi sewaktu tur Surabaya – Bali dulu, bus nya sangat nyaman, full AC, tempat duduk cukup lapang, tapi tidak cukup untuk meluruskan kaki kedepan. Ada TV LCD juga didalamnya, tapi tidak ada toilet didalamnya, dan pintu keluar masuk nya hanya 1, yang letaknya didepan.

Kesan pertama saya ketika melihat Kuala Lumpur, Malaysia adalah: Wow! Lumayan! Keren juga ternyata, sangat berbeda dengan pemikiran awal saya.

Perjalan baru saja dimulai!

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.