Menu
Hore-Lulus

Wow 3 Tahun Yang Sangat (Tak) Terasa – Mengenang Masa SMA #2

Lanjutan dari Wow 3 Tahun Yang Sangat (Tak) Terasa – Mengenang Masa SMA #1

Metode yang terbukti cukup ampuh

Metode guru kimia yang tadi saya ceritakan memang sudah jarang didapat sekarang ini. Selain membuat murid tegang, takut, dan perasaan tak menentu lainnya, alasan lain yang membuat metode ini sudah jarang adalah, HAM. Bukan tidak mungkin kalau ada orang tua murid yang berani melapor ke pihak berwajib dengan alasan anaknya dicubit. Tindak kekerasan lah, apa lah, sang guru akhir nya juga terpojokkan dengan hal ini. Ini tidak menguntungkan untuk kedua belah pihak.

Menurut saya, sah-sah saja kalau sang guru memberi hukuman kepada muridnya. Karena alasan yang kuat tentunya. Bukan memberi hukuman yang tidak beralasan kuat. Hanya sebagai pelampiasan contohnya. Hukuman cubit, berdiri didepan teman-teman bukan lah hal yang parah. Dan sepertinya seiring dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini, dinamika pendidikan yang juga cepat, memang dibutuhkan metode yang juga harus kreatif.

Metode-Pembelajaran
Metode

Keadaan murid-murid sekolah yang juga semakin hari semakin banyak menyimpang, makin kurang ajar, membuat guru semakin kesulitan dalam mendidik sang murid. Apakah karena hukuman nya kurang menyentuh lagi seperti dulu? Mungkin saja. Kalau saya dengar, orang-orang tua dulu sekolah, jarang, atau bahkan tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan anak-anak jaman sekarang. Apa itu? Lihat saja di sekolah. Bolos berjamaah lah, merokok dalam kelas lah, berkelahi lah, tauran lah, pergaulan bebas lah…. Shhh…. Parah.

Terus terang, metode guru saya tadi cukup berpengaruh terhadap semangat belajar saya untuk mata pelajaran kimia. Mungkin karena metodenya, yang menuntut saya untuk betul-betul harus tau materinya. Setidaknya saya kembali buka buku kimia. Sudah lama pelajaran kimia tidak menarik menurut ku. Seperti nya itu berkaitan dengan pengajaran guru kimia saya kelas 2 SMA dulu, yang agak jarang masuk kelas, ditambah lagi penjelasan yang kurang menarik.

Pelajaran kimia pernah menjadi pelajaran kesukaan saya, setidaknya sampai waktu kelas 1 SMA dulu. Saya sangat suka dengan kimia. Bukan karena apa nya, pernah satu waktu, ulangan kimia hanya ada dua orang yang tidak mengulang ujian dikelas saya. Hanya saya dan seorang teman cewek lain. Bukan main gembira nya saya waktu itu. Betul-betul hasil usaha sendiri.

Mau tau kenapa?

Beberapa malam sebelum ujian saya sudah mulai mengulang pelajaran yang diberikan bu guru. Nah, kebetulan buku yang saya pelajari sama dengan buku guru saya. Jadi, saya punya keyakinan kalau bahan ujiannya tidak beda jauh dengan yang ada dibuku. Beruntung sekali saya, karena buku itu juga tidak semua dimiliki teman saya. Buku itu sendiri adalah buku pinjaman, dipinjamkan tetangga saya yang sudah kelas 2.

Waktu ujian, saya tidak mengalami kesulitan berarti. Meski terlihat jelas kalau teman-teman yang lain kesulitan mengerjakannya. Saya cuma melakukan yang terbaik. Sambil berharap tidak mendapat nilai seratus, karena memang saya tidak bisa mengerjakannya secara sempurna. Paling tidak sudah bisa lulus sudah cukup. Meskipun setelah ujian berakhir, kudapati kalau pekerjaan saya banyak tidak sama dengan teman yang lain. I don’t care. Yang penting ujiannya sudah selesai. Dan akhir nya memang hanya dua orang yang lulus. Saya dan seorang teman yang lain.

Kembali lagi ke kelas 3

Ujian semester telah berakhir, nilai sudah keluar, raport sudah dibagi. Kulihat nilai-nilai yang tertera di raport. Cukup bagus hasilnya, kecuali matematika. Nilai nya cuma enam puluh berapa dan semester selanjutnya hanya naik sedikit. Saya memang kurang brilian di pelajaran itu, ditambah lagi karena saya sering bermasalah dengan gurunya.

Nilai kimia saya alhamdulillah cukup baik, terus meningkat selama kelas 3 SMA. Diluar dugaan saya, nilai nya menurut saya tidak sepadan dengan pengetahuan saya. Lebih tinggi dari harapan.

Meskipun guru kimia kelas 3 saya punya metode pengajaran yang sudah tidak konvensional lagi, tapi hasil nya tidak mengecewakan. Saya sangat berterima kasih sekali dengan jasa beliau. Paling tidak masih ada beberapa rumus yang melekat dikepala, meski sekarang sudah lupa. Yang paling penting adalah bagaimana pelajaran nya dapat diserap dengan baik, bisa membedakan antara ini dan itu, tidak perlu dibuat rumit lagi pelajarannya, dijelaskan secara gamblang saja. Dan beliau cukup bagus dalam hal itu.

Jangan tanyakan soal pengalaman beliau, beliau adalah salah satu guru paling senior di sekolah saya. Bahkan ibu saya sendiri pernah diajar beliau. Jadi bukan main jasa beliau. Kata ibu saya, metode pengajaran beliau memang seperti itu. Jadi harus belajar baik-baik.

Teman-teman yang melihat nilainya pun cukup senang dengan apa yang diperoleh nya. Tidak terlalu jelek lah. Dipenghujung semester kami sempat berterima kasih atas jasa beliau. Cukup terharu juga rasa nya.

Bagaimana dengan keadaan teman saya tadi?

Masih ingat dengan teman saya yang sempat kena omelan tadi? Pasti. Pengumuman kelulusan pun keluar, dan alhamdulillah semua murid IPA lulus semua, sayang ada 1 orang yang tidak lulus. Seorang teman jurusan IPS. Sangat kasian karena hanya dia sendiri yang tidak lulus.

Teman saya tadi juga lulus. Bukan lah hal yang mengherankan, namanya juga sudah didoakan sama guru. Guru senior lagi, ditambah sedikit omelan lagi, beruntung sekali teman saya itu. Dapat do’a plus plus. Tidak berhenti sampai disitu, do’a beliau pun manjur sampai dengan tahapan SNMPTN, teman saya yang tadi juga lulus disalah satu perguruan tinggi terbaik, jurusan dengan passing grade tinggi pula.

Hore-Lulus
Hooray!

Saya pun juga lulus masuk perguruan tinggi negeri, tapi lebih dulu dari teman saya yang tadi. Saya lulus di tes UMB (Ujian Masuk Bersama) yang lebih dulu diadakan, jadi punya waktu luang yang banyak sebelum masuk kampus. Jauh sebelumnya, mungkin tidak ada atau cuma sedikit teman saya yang percaya kalau teman yang tadi dapat lulus SNMPTN di jurusan yang dia pilih, tapi lagi-lagi kenyataannya dia memang lulus! Meskipun saya sendiri cukup sangsi pada awal nya. Jadi jangan pernah men-judge bahwa orang yang kelihatannya “biasa-biasa saja” tidak bisa seberhasil orang-orang yang “brilian”, kemungkinan tetap ada, banyak faktor yang menentukan, tergantung sebaik apa kita mengatur dan menjalankannya.

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.