Menu
Taman Bunga Keukenhof Belanda

Kembali Jadi Tutor Bahasa Inggris?

Seiring dengan masih belum berakhirnya pandemi COVID-19, kamu, saya, dan milyaran orang lainnya di muka bumi ini lebih banyak stay at home Work From Home.

Disaat pandemi seperti ini, dimana banyak orang yang kerja dari rumah (WFH), terkadang kita mendapat sedikit waktu luang dari tidak perlunya kita commuting ke tempat kerja, sekolah, atau menghabiskan waktu ditempat leisure. Disaat seperti ini kita sebaiknya memanfaatkan anugerah tersebut untuk hal yang positif. Mungkin kegiatan ini bisa jadi salah satu pilihan.

A new-ish activity

Beberapa bulan lalu ada sebuah thread di milis LPDP yang mengajak para alumni untuk turut memberikan pelatihan Bahasa Inggris kepada masyarakat umum –well, basically adalah anak-anak muda.

Inisiatif ini sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Juni 2020 lalu, namun saya baru membaca baik-baik isi thread itu di sekitar penghujung tahun 2020, dimana kegiatan ini sudah memasuki Batch 3.

Gerakan ini terlahir dari keprihatianan kami kepada ribuan anak-anak Indonesia yang memiliki potensi baik secara akademik maupun non akademik, memiliki mimpi untuk kuliah diluar negeri maupun bekerja diperusahaan besar. Namun mereka terkendala Bahasa “INGGRIS”. Faktor ekonomi tidak memungkinan mereka untuk kursus Bahasa.

Salah satu Latar Belakang dari inisiatif ini.

Nama gerakan/ inisiatif ini adalah 1 Jam 1000 Mimpi yang diprakarsai oleh beberapa alumni LPDP (bukan saya tentunya 🙂 ).

Dan saya juga cukup tergugah dengan latar belakang tersebut. Saya acungkan jempol dan sangat salut kepada mereka, orang-orang dengan inisiatif untuk berbagi apapun, termasuk ilmu pengetahuan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, apalagi jika tanpa meminta imbalan.

Singkat kata, setelah membaca (kembali) threads tersebut, dan mempertimbangkannya, saya mendaftar untuk menjadi salah satu tutor (pengajar) di gerakan 1 Jam 1000 Mimpi ini. Seperti yang saya katakan tadi, ini merupakan Batch Ketiga which is termasuk cepat perputarannya. Batch sebelumnya, Batch Pertama dimulai bulan Juni 2020, Batch Kedua dimulai bulan Oktober 2020, dan Batch Ketiga dimulai awal tahun 2021.

Banyak students dan tutors

Pada saat ingin memulai kelas pertama saya, saya menanyakan kepada salah satu inisiatornya sedikit detail tentang gerakan 1 Jam 1000 Mimpi ini. Dan dari situ saya mendapat informasi bahwa sejauh ini sudah ada lebih dari 700 siswa dan 260+ tutors dari 3 Batch yang diselenggarakan. I was like… Wow…. That’s AWESOME!

Senang sekali saya mendengar hal tersebut, mengetahui bahwa orang-orang sangat antusias mengikuti gerakan ini, baik untuk belajar, maupun untuk berkontribusi sebagai tutor.

Kegiatan pembelajaran 1 Jam 1000 Mimpi

Seperti kegiatan belajar mengajar lainnya ditengah pandemi COVID-19, proses pembelajaran 1 Jam 1000 Mimpi berlangsung secara online. Para tutor dan siswanya dapat memilih platform online meeting/ learning apapun yang paling cocok dengan mereka.

Oh iya, setiap tutor mendapat setidaknya 3 orang siswa dengan jadwal pertemuan seminggu sekali pertemuan, dengan lama sesi 1 jam per pertemuan (as the activity suggests, it is a 1 Jam 1000 Mimpi 🙂 ). Kelas biasanya diselenggarakan pada akhir pekan, atau hari lain sesuai kesepakatan masing-masing kelas.

Kembali ke platform kelas online, di sesi pertama kelas yang saya ajar siswa-siswa memilih menggunakan Google Meet. Namun ternyata, menggunakan Google Meet tidak sesuai ekspektasi saya, karena ada beberapa kendala saat ingin melakukan share screen. Oleh karena itu, saya mengajak para siswa untuk menggunakan Zoom saja karena fiturnya lebih lengkap dan stabil. Alhamdulillah semuanya setuju.

Why Do I Take This?

Sebenarnya saya sendiri agak ragu pada awalnya, berhubung sudah sangat lama saya tidak mengajar Bahasa Inggris. Dulu saya sempat menjadi tutor Bahasa Inggris di salah satu tempat kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri yaitu Test English School pada akhir tahun 2013 sampai awal 2014.

Beberapa alasan kenapa saya mendaftar menjadi tutor kegiatan 1 Jam 1000 Mimpi:

  • Ingin berkontribusi, berbagi sedikit skill Bahasa Inggris yang saya miliki kepada orang yang membutuhkan.
  • Mengisi waktu dengan hal yang positif dan memberi value kepada orang lain.
  • Me-refresh kembali pengetahuan.

One of the most effective ways to learn is by teaching someone else.

Anonymous

By the way saya juga setuju dengan quote tersebut. Teaching also helps to retain the knowledge we have learned, and gaining more insights from it.

Sejauh ini saya sudah melakukan 4 kali pertemuan secara online kelas saya, dan so far it is fun. Saya sangat senang dengan antusiasme para siswa di kelas saya.

First class was…

Tentu saja ada rasa nervous pas memulai kelas, apalagi setelah bertahun-tahun tidak pernah mengajar lagi. Dan dalam Bahasa Inggris pula. Saya beberapa kali mengalami “keseleo lidah”, karena hampir tidak pernah mempraktekkan conversation lagi.

Share screen (seperti yang tadi saya ceritakan) menggunakan Google Meet tidak berjalan sesuai harapan, sehingga mengganggu kelancaran proses belajar mengajar.

Penyusunan materi

Oh my God. Menyusun materi pembelajaran itu tidak mudah, I must say.

Di 1 Jam 1000 Mimpi, para tutor diberi kebebasan dalam penyusunan materi dan gaya pembelajaran. Namun tetap harus mengikuti silabus.

Kelas yang saya ajar merupakan kelas speaking – intermediate level (padahal saya sebenarnya memilih ingin mengajar conversation), yang sama seperti kelas-kelas lain sudah ditentukan silabusnya oleh organizer.

Menyusun materi membutuhkan waktu berjam-jam bahkan sampai beberapa hari (tentunya disela dengan kegiatan lain seperti bekerja pada pagi sampai sore hari).

Apakah saya menyesal mengikuti kegiatan ini? Tentu saja tidak.

Membuat materi pembelajaran memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, butuh konsentrasi, dan harus melakukan research terlebih dahulu mengenai materi tersebut.

Sambil menyusun materi ini, saya juga kembali belajar, menyegarkan kembali ingatan mengenai dasar-dasar Bahasa Inggris seperti grammar, dan lain-lain.

Past perfect progressive tense structure nya seperti apa dan bedanya dengan Past perfect tense biasa itu apa? Kalau Anda menanyakan itu kepada saya sebelumnya, saya pasti tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Thanks to kegiatan ini, saya kembali bisa mengingat kembali dasar-dasar grammar dengan mempelajari kembali materi, yang tentunya akan saya gunakan dalam kelas.

Well, that’s it for the story this time.

Semoga kegiatan ini dapat terus memberi nilai yang baik kepada siapapun yang menjadi bagian didalamnya.

Salut dengan para inisiator, tutor, dan juga para siswa yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengajar dan belajar.

Uhm BTW, just another one… For your info… sebagai tutor kami tidak menerima imbalan sepeser pun dan tidak mengharapkan imbalan apapun. ini 100% upaya kami untuk turut berkontribusi, terkhusus untuk mengajar Bahasa Inggris.

Cheers for the brighter future! 🙂

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.