Menu
photo of person praying indoors

Ramadhan 1443H (2022) Recap

Terasa sangat cepat berlalu

Sejujurnya saya juga merasa sedih dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Sepertinya masih beberapa hari yang lalu media dipenuhi dengan berita tentang penetapan 1 Ramadhan 1443H, dimana ada perbedaan penetapan antara Muhammadiyah dan NU. Namun demikian perbedaan tersebut tidak musti dibesar-besarkan dan didramatisir, toh kita sama-sama beragama Islam dan juga mau puasa dan lebaran.

Alhamdulillah dalam bulan suci Ramadhan ini meskipun wabah COVID-19 belum 100% hilang, setidaknya kita sudah bisa beribadah berjamaah dengan lebih leluasa di masjid. Tidak perlu lagi ada jarak yang lebar antara jamaah, sehingga shaaf bisa lebih rapat dibanding sebelumnya ketika wabah COVID-19 masih tinggi. Oleh karena itu, setelah bertahun-tahun merencanakan, akhirnya niat untuk bersafari Ramadhan di beberapa masjid bisa terealisasi. Saya menulis beberapa pengalaman tersebut dalam tulisan berikut:

Berbeda sekali dengan Ramadhan tahun sebelumnya

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah… COVID-19 sudah mulai mereda yang membuat kita tidak lagi khawatir untuk ibadah berjamaah di masjid, serta tidak ada lagi larangan untuk berjamaah di masjid. Ini sangat saya syukuri, karena Ramadhan tahun ini intensitas ibadah saya di masjid jauh lebih banyak dibanding Ramadhan tahun lalu.

Praying together in the mosque calmed my mind and heart, and also gave me more strengths to face all the issues I face this time around. Sadness, loneliness, unhappiness.

Sholat jamaah, terawih & witir di masjid sangat-sangat underrated dan saya pun tidak menyadari bahwa betapa banyak “kerugian” tanpa ibadah berjamaah tersebut di masjid pada saat pandemi COVID-19 ramai. Ibadah berjamaah, mendengarkan ceramah di masjid memberikan banyak ilmu yang bermanfaat, sekaligus menyegarkan kembali pemahaman kita tentang kehidupan beragama. Hidup dizaman seperti ini membuat kita sangat mudah lupa akan tujuan hidup dan bagaimana cara hidup yang sesuai dengan ajaran agama yang sebenarnya, dan tidak ada bulan lain selain bulan suci Ramadhan yang membuat kita bisa kembali menyegarkan ingatan kita akan itu semua. That’s why I honestly feel so sad. Ain’t no other months like Ramadhan.

Ramadhan, pekerjaan tetap jalan

Meskipun bulan Ramadhan, dan COVID-19 masih belum 100% reda, kami tetap bekerja seperti biasa. Alhamdulillah perusahaan kami terus supportive kepada karyawan dengan tetap memberikan keleluasaan dalam bekerja. Istilahnya Flexible Work Arrangement. Sehingga kami masih berkesempatan untuk melakukan pekerjaan dari rumah (WFH) beberapa hari dalam seminggu.

Saat WFO (Work From Office) pun Alhamdulillah jam kerja sedikit berkurang, kami biasanya sudah bisa pulang ke rumah sekitar sejam lebih sebelum buka puasa. Biasanya sisa waktu setelah sampai di rumah saya gunakan untuk mempersiapkan takjil.

Adanya beberapa waktu luang bisa saya manfaatkan untuk mengaji atau menonton ceramah di YouTube.

Alhamdulillah selama Ramadhan di kantor saya juga semakin membiasakan diri untuk sholat berjamaah di masjid kantor yang ada di basement bersama dengan karyawan lain dari beberapa lantai-lantai berbeda dalam gedung yang sama. Sebelumnya saya jauh lebih sering sholat sendiri di ruangan kecil yang biasa kami jadikan mushollah di lantai unit kami.

Mudik

Dalam 3 Ramadhan (termasuk tahun ini), baru kali ini saya dapat kembali berkumpul dengan keluarga besar saya di kampung halaman di Sulawesi Selatan. Meskipun ada beberapa kekurangan, mudik kali ini sangat-sangat berarti bagi saya :'(

I can’t express enough how much I appreciate those moments. Those moments have been so helpful for me to forget some of all those unnecessarily worst feelings ever, even though only for a short few weeks.

Oh I love my big families.

Dalam kesempatan mudik ini saya bisa kembali bertemu dan berkumpul dengan beberapa teman yang sudah saya kenal sejak masih kecil, mereka adalah teman-teman baik saya. I love them all.

Mudik, berkumpul dengan keluarga besar, bepergian bersama, berkumpul dengan teman-teman lama, bukanlah hal yang sangat mudah saat ini. Alhamdulillah mudik kali ini kita masih diberikan kesempatan untuk itu.

Mengaji

Alhamdulillah, meskipun dengan keadaan yang sangat penuh cobaan seperti ini, masih sempat khatam 30 Juz selama bulan Ramadhan ini. Mungkin tidak sehebat orang-orang lain yang bisa khatam berkali-kali selama Ramadhan, namun Alhamdulillah saya masih bisa menyempatkan diri untuk khatam sekali.

Lebaran

Lebaran ini saya bersama dengan Bapak saya. Kami sholat idul fitri di salah satu masjid terbesar di daerah kami. Semoga Idul fitri selanjutnya saya masih bisa sholat idul fitri bersama dengan orang tua saya lagi.

In summary

Bulan Ramadhan ini ada banyak cobaan yang sangat berat, namun ada juga beberapa hal yang sangat patut disyukuri seperti kesempatan beribadah berjamaah di masjid yang sudah bisa dengan leluasa dilakukan. Juga kesempatan untuk mudik yang sangat saya syukuri.

Tentu saja ada perasaan sangat sedih ketika Ramadhan ini berakhir. Satu-satunya bulan yang bisa membuat kita benar-benar fokus untuk mengingatkan kembali akan tujuan hidup kita seperti apa dan bagaimana menjalaninya.

Dan sedihnya lagi kita tidak akan pernah tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan, dan juga apakah kita akan bertemu lagi di bulan suci Ramadhan. That multiplies the sadness.

Semoga kita masih diberi kesempatan untuk terus beribadah dengan baik, dan juga masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci Ramadhan, dan juga bisa bertemu lagi dalam bulan suci Ramadhan. Aaamiin.

Dengan segala kerendahan hati, dan dengan bersungguh-sungguh saya mengucapkan minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin.

Share the Post
Rizqi Fahma
Rizqi Fahma

I read, I write, I bike, I swim, but I don't smoke.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.